BRUTALISME adalah wajah antagonis dari kota metropolitan sekelas Paris. Kita akan menemukan orang-orang yang tak peduli dan jahat di sini.
* * *
PARIS selama ini dikenal sebagai kota cinta. Nikmati saja antologi film pendek Paris je T’aime (2006) yang manis dan hangat itu. Namun dalam film yang akan saya review kali ini, jangan pernah mengharapkan kehangatan yang sama. Irreversible menggambarkan sisi gelap Paris yang bikin miris. Dalam artikel saya yang berjudul My Favorite Scariest Scene, saya belum memasukkan film ini sebagai salah satu film termengerikan karena saya baru menontonnya barusan.
Sementara di beberapa milis, film ini selalu masuk ke dalam deretan film yang paling mengganggu dan menakutkan sepanjang masa. Ini membuat kita yakin kalau Irreversible adalah film sadis layaknya Saw. Tapi jangan salah, ternyata ini hanyalah film drama biasa dengan pengemasan yang unik. Dimana uniknya?
Pendahuluan

IRREVERSIBLE adalah film berbahasa Perancis keluaran tahun 2002 buatan Gasper Noe. Ia berlaku sebagai penulis, sutradara, sinematografer, sekaligus editor. Film ini memiliki daya magnet lumayan besar karena dibintangi si seksi Monica Bellucci yang terkenal dalam film Malena (salah satu film terbaik sepanjang masa versi Samandayu), dan sekuel The Matrix.
Film ini meraih penghargaan di San Diego Film Critics sebagai Best Foreign Languange atau Film Berbahasa Asing Terbaik. Selain itu Irreversible memenangkan Bronze Horse di Stockholm Film Festival. Yang lebih mengesankan lagi, film yang menjadi film paling kontroversial tahun 2002 ini masuk kompetisi Festival Film Cannes tahun 2002 dan masuk nominasi Palme d’Orat (sekelas film terbaik di penghargaan film pada umumnya). Dan asal tahu saja, ketika itu yang menjadi salah satu jurinya adalah Christine Hakim. Bangga, dong? Salah satu artis kita yang go international tanpa harus mengeluarkan banyak busa di mulutnya.
Film Serba Terbaik
Irreversible adalah tipikal film-film Perancis kebanyakan yang ‘nyeleneh’ namun berseni. Cara pemaparan dalam film ini bukanlah flashback atau kilas balik tipikal cara bertutur film-film lain. Melainkan scene-scene yang ‘dibalik’ atau tidak linear (baca: random/benang kusut).

Ending tittle malah ditaruh di awal film dengan teks yang terbalik. Namun ini malah membuat saya berpikir kalau film ini akan keren sekali. Di awal film, kita akan dibawa pada suatu scene seorang lelaki tua yang sedang mengobrol bersama lelaki lain yang juga memiliki usia yang hampir sama. Terlihat dari keriput wajah dan perut buncit. Yang satu tidak berpakaian yang satunya lagi berpakaian. Mereka digambarkan selesai melakukan aktifitas seksual lalu mengobrol ngalur ngidul. Salah satunya menceritakan pengalaman mem-perkosa anak sendiri yang ditanggapi partner seksnya sebagai ‘western syndrome’ atau sindrom yang biasanya ‘menyerang’ orang-orang barat (baca: Amerika). Obrolan singkat ini ternyata ada hubungannya dengan seorang mucikari yang melakukan inses.
Kemudian saya sadar kalau film ini adalah film tanpa kamera editing alias menggunakan teknik ‘home video’ (istilah orang awam). Yakni ketika semua scene dijelaskan hanya dengan satu kamera dengan mood yang berbeda-beda. Di awal film mata kita pasti akan capek dan kepala pun langsung sakit lantaran kebingungan. Namun di tengah dan di akhir film, kita akan menemukan ketenangan dan drama yang sebenarnya.
Setelah scene pasangan gay tadi, kita akan menemukan seorang lelaki yang baru saja keluar dari klub malam gay yang bernama Rectum. Lelaki yang dijelaskan memiliki luka di anusnya itu dilarikan ke rumah sakit dengan beberapa polisi yang menghiasi etalase Rectum. Lelaki tersebut bernama marcus (Vincent Cassel) yang pergi ke klub tersebut untuk mencari seorang pemerkosa yang tidak pernah dikenalnya. Nama pemerkosa itu Le Tenia (Jo Prestia), seorang induk semang di Rectum.
Perkosaan Selalu Tragis
Karena kronologis cerita dipaparkan secara terbalik, maka kita akan dibawa ketika Marcus belum terluka. Ia masuk ke dalam klub gay dengan pengemasan chaos atau acak-acakan dan bikin puyeng mata. Suara desahan dan teriakan pelaku masochisme terdengar di sana-sini. Koridor yang temaram dipenuhi gigolo-gigolo tanpa pakaian yang siap dipakai para pengunjung. Dan di sanalah Marcus terus mencari Tenia. Dalam pencariannya yang kelewat emosional, Marcus berkelahi dengan antek Tenia. Lengan Marcus pun dipatahkan dan ia nyaris disodomi. Namun Tenia dating dan menghajar anteknya dengan tabung gas pemadam kebakaran. Sialnya, kita bisa dengan jelas menyaksikan tabung itu menghantam wajah korban sampai hancur. Hadeuh, bikin ngilu. Soalnya tanpa 'proses editing'!
Scene selanjutnya Marcus dan sahabatnya Pierre (Albert Dupontel) digambarkan menuju klub Rectum, dan selanjutnya scene pencarian Tenia di sebuah kawasan pelacuran transgender/waria di sudut Kota Paris.

Scene selanjutnya Marcus menemukan kekasihnya, Alex (Monica Belluci) yang tewas dengan wajah penuh darah. Nah, barulah scene fenomenal itu terhampar. Scene paling mengerikan dan mengganggu ketika adegan perkosaan digambarkan dengan sadis dan durasi yang cukup lama.
Scene selanjutnya Marcus menemukan kekasihnya, Alex (Monica Belluci) yang tewas dengan wajah penuh darah. Nah, barulah scene fenomenal itu terhampar. Scene paling mengerikan dan mengganggu ketika adegan perkosaan digambarkan dengan sadis dan durasi yang cukup lama.
Alex hendak pulang ke rumah pada tengah malam. Pakaiannya seksi sekali karena ia baru saja berpesta. Ia pun hendak menyetop taksi namun sayang, ia harus menyeberang dulu untuk menuju taksi. Atas saran seorang PSK, ia pun jalan menggunakan underpass . Koridor begitu sepi dengan tone merah menyala juga creepy. Ia pun melihat seorang lelaki yang berbuat kasar kepada seorang PSK waria. Waria itu ditendang dan ditampar. Alex yang kelelahan mencoba takut, bingung, dan hendak melewati lelaki tadi. Namun sayang, lelaki bernama Tenia itu menyergap dan mem-perkosanya. Adegan ini menjadi salah satu disturbing scene ever made dalam sejarah perfilman dunia. Setelah diperkosa, Alex pun dibantai hingga tewas.
Scene selanjutnya, kita tak lagi mendapati kekerasan. Suasana malah terhampar hangat dan romantis. Mulai dari scene pesta dansa yang menggambarkan kecintaan Marcus pada Alex dan kekaguman Pierre pada Alex. Scene persahabatan Alex, Marcus dan Pierre dalam perjalanan dengan kereta di waktu malam. Dan scene romantis Alex dan Marcus di rumah.


Mereka usai bercinta dan kita dihadapkan pada rasa cinta yang berkobar pada keduanya. Menuju ending, Alex mengetes kehamilannya dengan testpack udai mandi. Hasilnya pun positif –dilihat dari cara ia tertawa bahagia dan cara ia memegangi perutnya. Tidak diceritakan ia menceritakan kabar bahagia ini pada Marcus. Atau ia belum menceritakan karena ‘keburu’ tewas di tangan psikopat.
Mereka usai bercinta dan kita dihadapkan pada rasa cinta yang berkobar pada keduanya. Menuju ending, Alex mengetes kehamilannya dengan testpack udai mandi. Hasilnya pun positif –dilihat dari cara ia tertawa bahagia dan cara ia memegangi perutnya. Tidak diceritakan ia menceritakan kabar bahagia ini pada Marcus. Atau ia belum menceritakan karena ‘keburu’ tewas di tangan psikopat.
Irreversible Adalah Drama Tragis
Sebenarnya film ini memiliki alur yang biasa. Intinya menceritakan tentang seorang lelaki yang mencari lelaki yang memerkosa kekasihnya. Mengenai kerasnya kota besar (baca: Paris) pun sudah dituturkan banyak di film lain. Namun sutradara berhasil meramunya menjadi sebuah film yang luar biasa dengan cara penuturan alternatif yang tidak digunakan di film-film lain. Di awal film kita juga akan bertanya-tanya besar dan berspekulasi besar-besaran. Misalnya ketika kita menduga Marcus adalah seorang gay karena masuk ke dalam klub gay. Lalu beberapa tokoh pun dibuat samar dengan penamaan tokoh unisex. Alex ternyata seorang perempuan dan Telina ternyata bukan seorang perempuan atau waria, melainkan laki-laki. Hal-hal semacam itu terbukti manjur untuk membuat scene yang mengejutkan (surprising) dan membuat kita mengerti dan berkata, “oh jadi begini jalan ceritanya..”
Meski demikian film ini jelas hanya bisa dinikmati oleh sebagian orang. Segmen penontonnya pun dewasa karena penggambaran kekerasan dan seksualitas yang kelewat vulgar. Yang jelas ini pelem cocok untuk kalian yang suka film independen dan ‘nyeni’. Yang jelas (lagi) saya sangat cinta dengan ending film ini. Begitu impresif, begitu indah, nyaman, dan beresensi. Sebab sesuai judul filmnya yang dalam bahasa kita artinya ‘tidak dapat dirubah’ (baca: takdir), kita memang tidak akan pernah bisa memperbaiki keadaan. Dan upaya sutradara mengatakan ‘amanat’ tersebut adalah dengan cara membalikkan scene-scene tersebut. Jadi sangat tidak memiliki arti apa-apa jika film ini dikronologiskan secara 'teratur'.
Meski demikian film ini jelas hanya bisa dinikmati oleh sebagian orang. Segmen penontonnya pun dewasa karena penggambaran kekerasan dan seksualitas yang kelewat vulgar. Yang jelas ini pelem cocok untuk kalian yang suka film independen dan ‘nyeni’. Yang jelas (lagi) saya sangat cinta dengan ending film ini. Begitu impresif, begitu indah, nyaman, dan beresensi. Sebab sesuai judul filmnya yang dalam bahasa kita artinya ‘tidak dapat dirubah’ (baca: takdir), kita memang tidak akan pernah bisa memperbaiki keadaan. Dan upaya sutradara mengatakan ‘amanat’ tersebut adalah dengan cara membalikkan scene-scene tersebut. Jadi sangat tidak memiliki arti apa-apa jika film ini dikronologiskan secara 'teratur'.
Best Shoot: Alex berjalan tenang menuju koridor underpass. Dia bahkan tidak tahu akan bernasib naas. Scene ini bikin parno para cewek yang suka pulang malem di tempat-tempat sepi. Bukan nggak mungkin cowok juga bisa dikerjai. Apalagi Tenia memerkosa Alex lewat anus. Di sini digambarkan juga ada seorang lelaki di koridor yang sempat menyaksikan perkosaan ini, sayang dia malah kabur. Artinya banyak pula kan, orang yang tak mau menolong orang lain demi untuk keselamatan dirinya sendiri? Lihat saja para pencopet di bis atau stasiun, atau perampok di lampu merah. Meski banyak yang lihat, mereka mana mau nolong? Jadi ayo, kawan. Jangan pandang sesuatu hal yang dari sisi luarnya saja. Cobalah berpikir ke celah-celan lain. Bukalah sumbat celah itu. Dan mungkin kau akan menemukan sinar. Film ini mungkin jorok dan vulgar, tapi selalu akan ada 'sesuatu' jika kita bisa berpikir jernih.

4 Komentar:
omaigat dah...ini film yang bakal bikin saya parno. nonton saw aja jadi bikin parno seminggu.wan,sekali2 review film animasi dong.atawa film iran gitu. kan banyak film yang bagus and ga mengerikan begini.hehehe....
banyak film prancis tuh mengolah adegan seks dalam bentuk yang bisa dinikmati umum. dan kayaknya saya belom pernah nonton film prancis yang nggak ada adegan seksnya deh..
adoooh seremmm ini mahh, meski monica juga artis fave saya :D
monica beluci itu aja alasan untuk nonton ne film,,,ditambah resensi dri paduka bikin saya excite pgn nonton ne film....thx buat resensinya.....
Poskan Komentar