Dia bukan satu-satunya teman baik saya. Apalagi saat itu dia tidak tinggal berkos, tapi tingga di rumah kakaknya. Terutama semasa kuliah, saya punya teman baik yang lumayan banyak. Apalagi dalam artikel ini, yang saya ceritakan adalah junior saya beda fakultas, yang pacarnya adalah perempuan yang kebetulan berjilbab. Jadi jelas-jelas tidak membicarakan teman saya satu pun.
Hal ini perlu diluruskan karena saya terbiasa menulis dengan hati-hati. Tapi jika ada yang masih tersinggung, dan reaktif secara pekat, masalah sesungguhnya muncul dari dirinya sendiri. Semua tulisan saya jelas bukan mazhab, itu adalah opini. Tidak terlalu berarti untuk membuatmu tersinggung, kan? Kecuali jika memang tersindir karena pernah melakukan hal seperti yang dituliskan. Tapi beberapa pembaca mungkin mendapat manfaat lain. Mereka mungkin menilai bahwa ini sharing yang berguna, mengingatkan antar sesama dengan cara 'sastra'.
Sayang beberapa pembaca rentan salah kaparah, menyalahartikan, dan merasa mampu menilai dari setengah yang ia ketahui.
Ah, saya cuma heran dengan orang yang sakit hati. Dia memperbadut orang lain sementara sesungguhnya dia sendiri yang lebih badut.
*penambahan ini berdasar pengakuan teman saya pada Sabtu 17/11 mengenai salah satu twitter seorang blogger perempuan berhijab yang mengatakan sekira 'penulis yang katanya kritis itu memfitnah sahabatnya sendiri dan artikelnya jadi artikel teratas di halaman depan'. Tapi saya pikir, dia mungkin sedang menyindir blogger lain, kan?
*
Artikel dimuat pada 4 Januari 2012
dengan judul Semi-sastra 'Saya Mendengar Desah Orang Bercinta di Kamar Kosan'
Judul provakatif ini membuat artikel menjadi artikel yang paling banyak dibaca.
Mohon maaf bagi yang tersinggung, tapi saya hanya melakukan hal yang biasa dilakukan seorang blogger.Artikel ini tidak saya ubah satu pun kata dan kalimat. Tak satu pun nama yang saya singgung terkeparat di tulisan ini.
TENGAH malam adalah waktu yang paling tepat untuk menulis setelah mengerjakan tugas kuliah. Tak saya pedulikan bunyi sepeda motor dan kegaduhan kecil dekat pintu gerbang. Ah, paling teman kos saya yang lelaki, baru pulang. Dia akan memarkir motornya, masuk kamar, keributan selesai, dan saya akan kembali menyodomi komputer dalam suasana gelap. Yeah, hanya lampu akuarium yang menerangi. Sebab orang kayak saya suka hal yang berbau muram meski sangat menjauhi bau-bau tai.
Beberapa lama kemudian, semua hening dan saya mengetik dengan lancar dengan dua jari manis saya. Maklumlah, saya tidak mampu mengetik dengan sepuluh jari. Apalagi dengan sebelas jari. Sebab ayolah, saya punya masing-masing lima jari di tangan sebelah saya. kalaupun akan menjadi sebelas, mungkin jari yang lain yang melengkapi. Ah, sudahlah.
Samar-samar, saya mendengar suara desahan perempuan yang patah-patah. Saya tidak mampu menjabarkannya. Tapi saya pasang kuping baik-baik lalu terdengar teriakan terpekik/menjerit kecil. Lalu setelah itu hening. Saya tidak menaruh curiga.
Dan malah, menganggap kalau itu barangkali suara kuntilanak yang diam-diam masturbasi di dalam kamar saya, melihat keimutan saya. Yeah, ternyata saya salah. Saya pun mulai curiga manakala suara desahan itu mulai jelas terdengar.
Saya pun mengambil gelas kosong. Bukan! Bukan untuk saya lemparkan ke jendela agar terhingar bingar memekakkan keheningan. Namun saya gunakan itu untuk mendengar sesuatu di tembok kamar. Yeah, akhirnya saya tahu bunyi itu berasal. Dari kamar kosan sebelah saya. Kamar berukuran empat kali tiga yang ditempati teman saya.
Dia junior saya, kuliah di universitas swasta yang bersebelahan dengan kampus saya. Saya sempat melihat dia membawa pacarnya yang berkerudung ke kamar. Saya membiarkan, barangkali itu temannya. Lalu darimana saya menyimpulkan kalau perempuan itu pacarnya? Ya, setelah saya mengetahui aktivitas mereka malam itu. Karena ketika 'selesai' saya mengintip lewat jendela dan tahulah siapa gadis itu. Gadis berjilbab yang hendak bersih-bersih ke kamar mandi. Maklum, kosan saya yang berderet dan punya pintu masing-masing ini punya kamar mandi di luar yang digunakan bergiliran.
Saya kemudian mingkem dan berkata 'nggak nyangka'. Padahal bapaknya sempat bilang ke saya pas pindahan pertama kali ke kosan itu. Beliau berkata 'jaga anak saya, ya." Saya hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. bagaimana mungkin saya menjaga anak Bapak sementara jaga diri sendiri saja sudah kerepotan. Tapi sebagai basa-basi, baguslah angguk-anggukin kepala.
Dan kemudian saya menceritakan hal itu pada sahabat saya yang kuliahnya jauh di Sumedang. Dia hanya tertawa dan bilang kalau hal seperti itu lumrah. Yeah, seks di kos-kosan. Ketika seorang mahasiswa jauh dari pengawasan orang tua, dia merasa bebas melakukan apapun. Meski kemudian bukan hal aneh, tapi pelakunya yang berkerudung menampar rasa moral dalam diri saya.
Dan untuk kemudian, pada beberapa tipikal perempuan berjilbab tertentu, mereka pun melakukan apa yang dinamakan Islam dengan berzina. Contoh hubungan seksnya bermacam-macam, ada yang hanya berciuman, pelukan, masturbasi/onani, sampai koitus. Perempuan berjilbab dituntut untuk punya moral yang jauh lebih baik dari perempuan yang tidak berjilbab. jilbab adalah hijab, penghindar dari fitnah. Namun apa jadinya kalau yang jilbab-jilbab saja seenak udelnya sendiri bawa masuk pacarnya ke dalam kosan, dalam keadaan pintu tertutup, tanpa izin.
Dua orang yang sama-sama punya nafsu, berada dalam kamar yang sama. Mungkin mereka memang tidak melakukan apa-apa. Tapi jangan salahkan orang lain jika berkecenderungan berpikiran hal-hal negatif yang disebut fitnah. Fitnah adalah perkataan bohong atau sesuatu yang tidak berdasarkan kebenaran. Maka dari itu untuk menjauhi fitnah, sudah sepatutnya yang berpasangan, nonmuhrim dan belum menikah ini memperhatikan etika dan pandangan sosial. Apalagi jika salah satu dari pasangan itu memakai perangkat keagamaan: kerudung.
Tapi, yeah ... saya harus tidak suuzon. Sapa tahu itu cewek sedang latihan drama. Atau jangan-jangan begitulah cara mereka pacaran, malem-malem di kamar tertutup bin gelap, dan pura-pura desah mendesah. No sex intercouse.
Tapi, yeah ... saya harus tidak suuzon. Sapa tahu itu cewek sedang latihan drama. Atau jangan-jangan begitulah cara mereka pacaran, malem-malem di kamar tertutup bin gelap, dan pura-pura desah mendesah. No sex intercouse.
*
Kalau aku akan pasang musik agak keras dikit. biar desahannya gak kedengaran. Ato, biar aman, gigit sesuatulah! :kikik:
BalasHapusMalu gila kalo kedengaran tetangga sebelah! :musik:
haha curhat ala orang pinter emang lain ya bung.. heu
BalasHapushohoho...intinya. sekarang pelaku sex bebas bukan hanya berasal dari mereka yang memang 'rusak' dalam arti mukngkin broken home, ato pelacur. semua kalangan bahkan yang memakai atribut kerudung. fyuh,,,ga tau sie kalo sampe segitunya, soalnya di sini (bali) jarang liat yg pake kerudung maen ke kosan cowoknya trus tutup pintu. mereka kebanyakan malah stay di teras dan datang pada jam wajar alias siang.
BalasHapusKebetulan aku pernah punya pengalaman yang cukup menyesakkan juga dengan cewek berjilbab :((
BalasHapusZaman sekarang, segala atribut keagamaan bukan jaminan seseorang berkelakuan benar; malah cuma jadi alibi saja menutup keborokan yang tersembunyi.
BalasHapusTapi yang berpenampilan serampangan pun tak berarti orang jahat; siapa yang tahu bahwa didasar hatinya masih tersimpan kesucian diri....
Peace laaaaah..... :P
hihihi
BalasHapuskomentar yg pertama itu mesti udah berpengalaman
btw
jilbab yg bener2 jilbab ya yg panjang gitu, 90% moral mereka ndak bakalan kayak gitu :)
haaa. uapaaaa....!!! berkerudung???
BalasHapuspantes aja yang beneran berhijab pun jd di pandang remeh gara2 perempuan2 seperti itu.. huft
Rekam, kemudian blackmail...suruh dia nraktir lu makan tiap hari kalo ga mau sex tapenya tersebar...mwahahahaha
BalasHapuswduh,dsar alim tuh yg ad di kamar kosan sebelah ente (alim = aliran mesum). kbanyakan nnton BF tuh. hahha
BalasHapusKenapa gak masuk aja dan liat gaya apa dipake wan?
BalasHapustinggal ketok pintu dan bilang: saya mau dokumentasikan ya ...
kalo nguping kan gak jelas... apa itu desahan nikmatnya bercinta apa desahan nikmatnya yang lain. :D
BalasHapuslo aja kaleee..
HapusParaaaaaaaaaahhh.. :/
BalasHapuslagi2 insiden perempuan berjilbab tp kelakuan binal ~~
BalasHapusini menusuk hati bang,soalnya aqika jg berjilbab. Saya juga punya teman yg alumni pondok pesantren ternama dan seorang mahasiswi,sehari-hari berjilbab tapi ya gitu deh gaya pacarannya. memang tidak separah sperti cerita di atas,tapi menurut saya sudah terlalu parah.:-0
BalasHapusMasyaAllah.... siapapun yang mendengar desahan seperti Mas Sedayu pasti akan berpikiran sama, ada seks di dalam sana. :(
BalasHapusTapi benar juga, mari ber-husnuzon. Dan saya tertawa saat mbaca pendapat Mas Sedayu bahwa siapa tahu gaya pacaran mereka main desah-desahan. :D
Dan, hey, komentar pertama tampaknya sudah berpengalaman. LOL
gak tau deh kost2an dsini kayak gimana.
BalasHapusapa iya seluruh indonesia hal itu udah lumrah ?
allahuwalam..
menarik :o kaget..
bener bener menampar moral wanita,
BalasHapusterutama yang juga berjilbab :-(
Begendonglahhh, anak mudah zaman sekarang. ckckck
BalasHapusaw..aw...
BalasHapussaya jga berjilbab, jdi ikut prihatin pas bca tlisan ini..
BTW, kalo di sini yg gtu2 ga aneh lagi ditemui bang wan...
Di Aceh rata2 pd brkrudung,
n masih bnyak jga kok yg gitu2an....
parah banget...:-W
kalo di kosanku dulu yang terdengar saling mendesah adalah 2 cowok di dalam kamar, gimana tuh om cara untuk berkhusnudzon nya?
BalasHapus+_+"
omg...
HapusBesok pasang kameran cctv..
BalasHapushahahay...
:D
Hampir setahun saya baca blog saman dan yg ini emang bikin gatel buat di komentarin hehe
BalasHapusTemen temen saya yg "ngakunya berjilbab" banyak kok yg berperilaku minus dan jilbab nya cuma untuk menutupi kelakuan minusnya. Ya kenyataannya memang seperti ini :p
Oh iya salam kenal :)
hmmm ..
BalasHapushanya dia dan Tuhan yang tau ..
(:
sedih banget, ga tanggung jawab sama jilbabnya, hmm :-w
BalasHapuskhas masyarakat urban. semakin bebas, semakin asyik (katanya)
BalasHapuslempar batu sembunyi tangan.. hmmmmh................ :dies:
BalasHapusjadi pengen main ke kostan kang saman, bawa kamera dan siaga tiap malem, siapa tau dapet sumber mata pencaharian dari situ, dunia emang keras bung hahahah *canda kok :p
BalasHapusKayanya nggak Di Kosan bang Saman aja deh, Di jembatan Cinta di pantai Ancol banyak banget malah. Allhamdulillah pacaran kesitu sama Suami,niat pengen mancing ehh malah ngeliat muda mudi yang pada keblinger minta di kawinin :D hehehehee.....
BalasHapuslho, ini crita nyata ya? yah, sedih banget. saya memang bukan muslim sih, tapi saya sering kali miris kalo denger/baca/liat cewe yg keperawanannya diambil, baik secara paksa/gak. jadi merinding ih..
BalasHapusknp ga diketok pintunya...
BalasHapussapa tau aja diajakin dan dikasih tau suara apa itu..?/
:P
ya seprti itulah zaman skarang, jg cma percaya sama kostum, dalamnya lautan masih bisa di jajaki, tapi dalamnya hati manusia?? Sapa yang tahu???..
BalasHapusjadi merasa terpojok. aku juga berkerudung tapi sumpah gak kayak gitu. punya juga sih tean yg kayak gitu berkerudung jg. ya Allah kayak apa jaman anak cucuku nanti...
BalasHapusbaca bismillah..buka arrahmah.com/khusus yg islam sj ya
BalasHapusKalo ada kejadian seperti ini, sebaiknya pintu kamarnya diketuk....
BalasHapusBukankah sesama muslim harus saling mengingatkan dalam kebaikan?
Kalau sudah seperti ini, membacanya saja sudah menyesakkan dada.. :(
yah, mungkin jika teman2 ada yang pernah mengalami hal di atas, bisa lebih mengambil jalan untuk menegur. sebab kisah ini terjadi pada saat saya tingkat 2 berkuliah. yang mungkin masih hijau untuk sekadar buka pintu, mengetuk, lalu menegur. seperti beberapa komentar di atas atas yang sepertinya berbau semi-sinism hehehe.
Hapus....mestinya bang wan nynyi lagu....'' hujan lebat lebat tai kambing biri biri....hehehehehehe
BalasHapusYg salah, ngapain pacaran, udah jelas haram dalam islam.
BalasHapus