SEPULUH menit pertama menonton Dilema, saya terkejut. Terkejut karena opening scene yang memukau, atau gimana Bung Sam? Yeah, ternyata Dilema bukanlah film omnibus seperti yang telah digadang-gadang dalam sinopsis resminya. Ini adalah film utuh dengan disutradarai lima orang yang berbeda. Namun sebelum saya 'membantai' film ini dengan cinta dan kasih, sudilah kiranya saya memberikan plot versi saya.
Plot
Sesungguhnya opening scene film ini megah, elegan dan tidak main-main. Dengan kamera film, kita diajak melihat gambaran ormas yang menggerebek masjid yang konon berisi ulama yang mengaku-ngaku nabi terakhir. Kemudian kita akan melihat bagaimana seorang polisi baru bernama Ario (Ario bayu) semobil dengan polisi senior (diperankan Tio Pakusadewo). Kemudian ormas pun bentrok dengan ulama di masjid. Sementara seorang anak perempuan berjilbab dan pincang digambarkan dalam keadaan terdesak-desak dengan pendemo lain. Sehingga anak ini diselamatkan Ario.
Scene selanjutnya kita akan diajak menikmati beberapa fragmen yang berbeda dan tidak berhubungan satu sama lain. Ada Adrian (Reza Rahadian) seorang arsitektur muda yang kedatangan seorang perempuan bernama Hetty (Jajang C. Noer) yang akan mengajaknya menemui ayah kandung Adrian.
Scene selanjutnya (sorry kalau enggak berurutan di 20 menit awal film), mata kita akan disegarkan dengan aksi Dian (Pevita Pearce) yang sedang bersantai di pantai dengan pakaian seksi. Kelak kita akan mengetahui kalau gadis ini tipikal broken home yang kemudian digoda seorang lesbian dan pengedar narkoba bernama Rima (Wulan Guritno).
Selanjutnya kita diajak ke ruangan serba pengap dan menikmati akting membosankan di awal: Lukman Sardi dan Slamet Rahardjo. Sigit (Slamet R) adalah mantan penjudi yang masuk tempat perjudian di Jakarta dan kembali berjudo dengan meminjam uang pada saudaranya (Lukman Sardi). Kelak dia akan bertaruh dengan saingannya yang diperankan Ray Sahetapi.
Hati-hati, mngandung spoiler :
Dilema: Film Kriminal Sulit Cerna
Sebenarnya film ini mengangkat isu yang menarik, kriminalitas di Kota Jakarta. Namun dengan adanya bumbu demonstrasi ormas, rasanya itu seperti bumbu yang dipaksakan. Dari yang saya tangkap, pemimpin ormas ini dicekoki oknum dari pihak Sonny, yang mungkin bekerja sama dengan oknum lain (baca: aparat untuk mengalihkan isu). Yang jelas scene gontok-gontokan ormas ini kurang epic secara teknis. Rapat ormas dihadiri beberapa orang muslim berpeci berkoko saja di rumah yang muram. Yang kurang logis menurut saya, perubahan cara pandang Ibnu yang tiba-tiba berubah haluan setelah berdialog singkat dengan teman perempuannya. Kemudian seorang oknum terlihat yang bermuka oriental, masuk ke rumah Said dan menyuruh Said melakukan bom bunuh diri. Mungkin saya yang bodoh atau film ini membingungkan, namun dalam pikiran saya, Said ini akan bom bunuh diri di antara jamaah yang sedang salat (mirip kasus yang pernah terjadi di dunia nyata). Namun, dia tidak melakukannya malah mendatangi Ibnu sehabis Isya lalu Said datang dan memeluk. Oknum berwajah oriental pun menembak Said. Waw, ini adalah scene yang bikin ane bingung.
Meski begitu, pesannya dapat dan klise, bahwa Islam tidak mengenal anarkisme. Yah, kalau saja bagian ini dihilangkan, mungkin Dilema akan menjadi film yang punya konsep jelas dan kuat.
![]() |
| Foto: wowkeren.com |
Namun yang lebih menarik, film ini diisi oleh jajaran aktor papan atas. Semua bermain maksimal sesuai porsi dan saling mendukung. Di jajaran aktor, karakter kuat terlihat dari tokoh yang diperankan Tip Pakusadewo dan Ray Sahetapy. Disusul aktor muda, Reza Rahadian yang bermain bagus seperti biasanya. Di jajaran aktris saya memuji akting Pevita Pearce, yang juga menjadi daya pikat film ini. Apalagi ada adegan kissing dan foreplaynya dengan seorang pemuda. Yang sialnya jadi mirip siluet gara-gara tata cahaya yang minim. Dan dari sekian banyak aktor, yang paling mencuri perhatian adalah Wulan Guritno. Dia berhasil membawa gestur seorang lesbian dan pengedar narkoba yang gemar mencari anak-anak broken home untuk dijadikan ladang bisnisnya.
Pada akhirnya, Dilema adalah film Indonesia yang baik di awal tahun -dari yang saya tonton. Namun tentu tipikal film seperti ini tidak akan bertahan lama di bioskop. Di teater yang masuki saja, hanya ada sepuluh orang yang menonton. Ketika di lobi, saya malah melihat orang-orang mengantri di jajaran kasir yang menyediakan film Jupe. ASU (ah, sudahlah). Yang pasti Dilema adalah film layak tonton. Untuk standar Indonesia, Dilema adalah film non-mainstream yang layak mendapatkan apresiasi besar ketimbang film-film asal-asalan yang cuma jual poster HOT dan sok-sok-an artistik doang.
*
Score: 7/10


7 Komentar:
Hmmm... belum kepikiran buat nonton nih....
Gak tau napa, baca sinopsisnya kok blm bikin penasaran ya.... mungkin karena gak begitu suka dgn film Indonesia itulah jadinya gak ada greget.
Tapi, sukses aja deh buat perfiman Indonesia!
nggu tayang ditipi aja aah :3
ga bakal nyampe bali duech klo animonya di jawa ajah dah gtu...=.=
udah nonton film ini kemaren sabtu. jujur, emang agak sulit di cerna dari segi cerita. tapi untuk ukuran film Indonesia film ini keren banget (ya karna emang dasarnya gak begitu suka nonton film indonesia di karenakan terlalu banyak film Indonesia yang abal-abal)
satu2nya yang pengen gue tau tuh adegan lesbinya.... penasaran aja.. huahahha
di trailernya memang bener keliatan gelap banget filmnya, pingin nontooon tapi aku ngga punya uaaaaang, lagi bokek mau buat "koin untuk rian " aaaaah :D
kepengen nonton,,,masa kalah sama film pornonya jupe wkwk,,
wan jangan lupa review juga film terbarunya Joko Anwar `Modus Anomali`,,menurut saya filmnya pasti keren,udah liat film joko anwar yg sebelumnya,,`Kala` dan `Pintu Terlarang``,,
-hyding
Poskan Komentar