ACADEMY awards atau yang lebih dikenal dengan Oscar telah dihelat pada 26 Februari kemarin di Amerika Serikat. Dunia maya pun banyak membicarakan pemenangan penghargaan film paling prestisius di Amerika ini. Satu bulan yang lalu saya sempat membuat rubrik khusus yang diberi nama Road to The Oscars, sayangnya kurang mendapatkan perhatian pembaca. Namun, saya puas dengan hasil Oscars tahun ini karena sesuai dengan prediksi saya sebagai apresiator film.
The Artist menjadi film bisu pertama yang mendapatkan lima penghargaan sekaligus terutama Film Terbaik. Sesuai harapan, sang aktor kebagian jatah sebagai Best Actor karena dominasi aktingnya yang memukau. Meski miskin dialog namun watak tokoh yang diperankan Jean Dujardin tersimak kuat dalam gestur serta mimik wajah. Tentang bagaimana ketika George Valentine berdrama sebagai aktor dan bagaimana dia menjadi seorang lelaki pecundang sebagai rakyat sipil. Sementara sesuai perkiraan, Meryl Streep memenangkan Oscars ketiganya setelah 17 kali menerima nominasi yang sama. Streep berhasil memerankan mantan perdana menteri Inggris yang mengidap penyakin dimensia. Didukung tata rias yang apik, aktingnya semakin memukau. Meski Viola Davis banyak pula mendapatkan penghargaan Aktris Terbaik di banyak penghargaan film Amerika lainnya, namun Oscars tentu memilih Streep tanpa memedulikan isu rasis lagi.
Hugo, sepertinya memang 'tidak mungkin' memenangkan film terbaik. Karena The Artist memang punya unsur kebaruan yang lebih terlihat. Meski The Artist dan Hugo punya kesamaan yakni membicarakan film, namun Hugo lebih kuat di segi tata teknis. Tidak heran dari departemen visual efek, Hugo memenangkan dan menggulingkan lawan-lawannya yang lain. Hugo baik dan detil dalam memvisualisasikan jam raksasa juga robot pelukis.
Sementara itu di jajaran naskah, sesuai harapan, Midnight in Paris memenangkan Best Original Screenplay. Karena kapan lagi melihat film yang begitu sastra yang seenak udel sendiri membawa tokoh utamanya menjumpai sastrawan dan seniman besar di Paris. The Descendants, juga harus puas memenangkan Bes Adapted Screenplay. Sang penulis berhasil mengadaptasi kisah yang diangkat dari novel berjudul sama karya Kaui Hart Hemmings ini. George Clooney yang memang bermain meyakinkan, juga kurang mungkin menerima Best Actor karena peran yang dibawakan cenderung tipikal dan memungkinkan aktor lain juga bisa membawakannya.
Di jajaran film asing, A Separation akhrinya mendapatkan pengakuan tertinggi sekelas Oscars. Maklum saja film ini banyak memenangkan kategori yang sama di pelbagai festival internasional. Film Iran ini bahkan dimasukkan ke dalam nominasi Best Original Screenplay di Oscars karena konten yang tidak tendensif dalam mengkritik keadaan sosial yang timpanng di kulturnya (Iran).
Rango, sebuah animasi yang berbeda karena merupakan plesetan beberapa film aksi di Amerika, akhirnya memenangkan kategori ini. Memang untuk ukuran animasi, Rango cenderung liar dan dewasa. Penggambaran para tokoh kartun divisualisasikan sedemikan detil dan nyata mirip binatang sesungguhnya dengan sisik menjijikkan dan sejenis itu. Rango juga memiliki unsur kritik dan humor yang dewasa dan cerdas. Tidak heran film ini dipilih.Dan kemenangannya seperti menertawakan kemenangan Tintin yang dipilih Golden Globe sebagai Film Animasi Terbaik. Mengingat, Rango terpilih di kategori yang sama di hampir penghargaan film internasional.
The Artist
Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik, Tata Musik Terbaik, Kostum Terbaik
The Artist: Menyenangkan dan Brilian
Ketahuilah kalau The Artist adalah film bisu lengkap dengan screen hitam putih dan teks sebagai pengganti dialog. Hal yang lucu, ketika film ini diputar di Inggris, beberapa penonton yang tidak mengetahui kalau film yang mereka tonton adalah film bisu, malah menuntut bioskop untuk mengembalikan uang mereka kembali. Namun bukan berarti konsep ini membosankan. Kita malah akan tertawa juga bersedih di scene-scene tertentu dengan hanya menyaksikan permainan mimik wajah para aktor, teks sebagai pengganti dialog, dan tentu saja tata musik orkestra yang mumpuni.
Sensasi klasik ini memberikan pengalaman baru bagi penonton di era ini, terutama bagi saya yang memang belum pernah menyaksikan film bisu kecuali Charlie Chaplin yang sempat ditayangkan di TV pada era 90-an. Dan tentu saja karena dibuat di era ini, tata teknis pun dibuat secara epic. Tata artistik, sinematografi dan editing pun mendukung sehingga membuat film ini utuh secara kualitas. Enggak heran masuk banyak nominasi teknis di Oscar.
Pokoknya, tidak perlu mengerutkan kening saat menyaksikan film ini. Gestur dan mimik yang 'comical' yang manusiawi membuat para penonton tak terlalu rumit menikmati plot. Dan jangan khawatir, teks dalam screen pun dibuat seperlunya bahkan boleh dibilang minim. Dan menyoal cerita, tidaklah terlalu istimewa lantaran menceritakan hal yang sebenarnya klise. Namun siapa sangka ide cerita yang sederhana ini menjadi menarik sampai penonton dibuat rileks dan tak perlu menebak-nebak akhir cerita atau scene selanjutnya. Sebab penonton benar-benar bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tapi bukan berarti ending film ini tidak memberikan kesan impresi. Penonton akan diberikan kejutan sebelum film ditutup. Apakah itu? Simak saja ketika The Artist tayang di Indonesia. Yang jelas seperti pengakuan sang sutradara, Michel Hazanavicius, "ini adalah film kecil yang sederhana. Tidak ada sinisme atau sarkasme. Ini semua tentang harapan dan bagaimana seseorang harus beradaptasi terhadap lingkungan yang sudah berubah."
Yeah, boleh dibilang film ini menjadi sindiran bagi film-film berdialog yang tendensif dan terlalu memaparkan keadaan realita secara gamblang dan pekat. The Artist tampil sederhana dengan konsep bisu, musikal, dan menghibur.
Hugo
Tata Kamera Terbaik, Visual Efek Terbaik, Editing Tata Suara Terbaik, Tata Suara Mixing Terbaik
Hugo: Film tentang Film
Dengan konsep 3D, film ini akan membuatmu jatuh cinta hanya karena opening scene yang memukau. Dalam hitungan detik, kita akan menyaksikan latar stasiun kereta api di Paris pada tahun 1930-an. Kemudian, seorang bocah lelaki bernama Hugo, terlihat mengintip dibalik jam dinding raksasa yang terletak di stasiun. Sepeninggal ayahnya, Hugo ikut sang paman dan tinggal dalam bangunan jam raksasa. Sayang, sang paman pergi sehingga membuatnya hidup sendirian.
Hugo melakukan aktivitasnya dengan menjauhi penjaga stasiun berkaki pincang yang selalu membawa anjing. Penjaga itu kerap mengirimkan anak-anak pencuri ke panti asuhan dengan sepihak. Hugo juga harus mendapatkan makanan dengan mencuri. Namun yang lebih sering dilakukannya adalah mencuri perkakas di toko perbaikan mainan yang dikelola, George Melies, seorang lelaki paruh baya, yang kemudian memergoki Hugo mencuri. Buku berharga peninggalan almarhum ayah Hugo pun diambil. Ini membuat Hugo meminta kembali bukunya meski hasilnya nihil.
Hugo juga mengingat kembali masa lalunya dengan sang ayah, pengurus museum. Keduanya sering menghabiskan waktu berdua termasuk menonton film bisu. Hugo juga mendapati sebuah robot penggambar sketsa yang rusak, dan dia berjanji untuk memperbaikinya. Sayang, ayah Hugo tewas saat kebakaran terjadi di museum.
Kemudian, Hugo berkenalan dengan Isabelle, cucu dari George. Hugo dan Isabelle pun berteman dan memecahkan misteri demi misteri yang mengiringi petualangan mereka. Sampai akhirnya keduanya tahu kalau George Melies adalah sutradara terkenal di masa lalu yang menghasilkan ratusan film. Sayang, George membakar film-filmnya akibat rasa frustasi yang dalam akibat konflik yang terjadi di Perancis pada waktu itu. Makanya, George membuat robot yang mampu membuat gambar sketsa film-filmnya. Dan hal inilah yang membuat kehidupan hambar antara Hugo dan George mendadak berwarna.
Midnight in Paris
Cerita Asli Terbaik
Midnight in Paris: Film Romantik Sureal yang Sangat Paris
Kayaknya Oscar tahun ini sedang demen-demennya milih film-film berbau Perancis. Unsur-unsur itu terdapat dalam film Hugo, The Artist, dan tentu saja Midnight in Paris (MIP). Ada pula film animasi dari Perancis yang masuk Animasi Terbaik: A Cat in Paris, yang tentunya akan di-review sebentar lagi. Heu.
Namun dalam MIP, kita akan menemukan tipe film ala Amerika dengan gaya yang berbeda. Sutradaranya cadas bener ngasih kita scene demi scene jalanan Kota Paris yang indah. Kemudian, sebagian besar scene dilakukan secara outdoor. Aroma Paris enggak hanya terlihat dari latar, melainkan dari musik dan lafal Perancis beberapa aktornya. Permainan ensemble aktor pun seperti biasanya bagus. Tapi karena saking semuanya bermain di porsi yang cukup dan aman, film ini tidak mendapat nominasi di kategori akting.
MIP mendapatkan 4 nominasi Oscar yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Tata Artistik Terbaik, dan Naskah Asli Terbaik. Di beberapa penghargaan, film ini mendapatkan penghargaan di segi naskah. Jadi bisa saya prediksi kalah MIP akan membawa Oscar di kategori ini. Orisinalitas Woody Allen (aktor, penulis naskah, dan sutradara peraih Oscar) sebagai penulis patut diacungi jempol. MIP punya ide cerita (istilah blogger film mah 'premis') segar ketika dua dimensi waktu yang berbeda, disatukan 'seenak udel sendiri' dengan alibi kejaiban di setiap tengah malam di Kota Paris.
Penonton yang membayangkan ini akan menjadi komedi romantis berkadar pekat, mungkin akan mengerutkan kening. Terlebih bagi penonton awam yang tidak mengenal tokoh-tokoh terkenal di dunia sastra dan seni seperti Hemingway atau Pablo. MIP bisa saja membikin puyeng penonton yang berharap mendapatkan drama komedi romantis ala Amerika seperti yang sudah-sudah. Tapi seperti poster filmnya yang menggabungkan ilustrasi kenyataan (Gil berjalan) dan langit animasi (perwakilan masa lalu), maka begitulah film ini berjalan.
Namun mata kita dijamin akan adem sendiri dengan sinematografi yang lembut terutama di scene restoran tua. Sebagian pengambilan gambar juga dilakukan dalam sekali take di 20 menit film berlangsung, sehingga kita dengan leluasa melihat secara detil jalanan Paris.
The Descendants
Cerita Adaptasi Terbaik
The Descendants: Gambaran Pahit Keluarga Amerika
Alexander Payne yang lebih dulu menyutradarai Sideways (2004), membuat film berdasar novel berjudul The Descendants karya Kaui Hart Hemmings. Berlatar di wiliayah Hawaii, Amerika Serikat, film ini hanyalah salah satu dari sekian banyak film drama yang sering kita jumpai. Bagaimana sebuah drama komedi tentang keluarga dan rumah tangga ditampilkan sebegitu mengalir tanpa ada khotban di sana-sini.Tidak ada yang benar-benar istimewa sebenarnya. Konsep naskah yang dibuat naratif kronologis berdasar sudut pandang tokoh Matt pun kerap dipakai di konsep film lain. Namun film ini konsisten terhadap penceritaan satu sudut pandang ini sehingga kita akan melulu melihat George Clooney di setiap scene, di sepanjang film. Sampai akhirnya kita akan leluasa melihat totalitas aktingnya.
Yang mencuri perhatian di departemen akting dalam film ini adalah tokoh anak gadis yang pemberontak namun memiliki empati tinggi yang diperankan Woodley. Selain memiliki kecantikan ragawi yang di atas standar, dia juga berhasil membawakan tipikal anak remaja Amerika dengan akting yang natural. Judy Geer yang memerankan istri Brian Speer pun menguras emosi penonton menjelang ending. Meskipun keberadaannya di film ini cuma hitungan menit.
Unsur komedi menjadi hal yang juga mendapat perhatian ekstra di film ini. Bagaimana ibu dari Matt yang sudah tua dan pikun bahkan tidak tahu siapa itu Elizabeth. Ketika hendak diajak menjenguk, dia malah menyangka akan menemui Ratu Elizabeth, bukan Elizabeth sebagai menantunya. Selain itu keberadaan tokoh Sid, teman lelaki Alex yang suka berkata-kata kasar dan sok asik, sejenak mengesalkan penonton namun di sisi lain penonton pun melegalkannya. Belum lagi tokoh figuran lain, Raina, anak perempuan sebelas tahunan yang berteman dengan Scottie. Diceritakan Scottie, ternyata Raina pernah menonton film porno di rumah yang sepi dan mengundang anak-anak lelaki lain. Saat mendengar itu, Alex menyebut Raina cabul dan melarang Scottie untuk menjauhi Raina.
Begitulah kehidupan keluarga di Amerika yang terang-terangan dan tak ada sopan santun selayaknya yang diberlakukan orang-orang Timur. Ketika seorang muda seperti Sid, memperlakukan siapapun yang berada di hadapannya tanpa rasa empati, meskipun sebenarnya dia tetap menaruh respek pada orang yang lebih tua.
Dalam skala perbincangan orang dewasa, kita pun akan menemukan bagaimana kekerasan tidak akan kita temukan di sini. Jika dalam standar SHIT-netron di Indonesia, seorang ayah bahkan mudah menampar anaknya hanya karena melakukan hal sepele, maka di film ini, kita enggak akan menemukan itu. Matt tidak meninju Sid atau mengeluarkannya dari mobil, Matt juga tidak membogem seseorang yang seharusnya dibogem: Brian Speer. Dia 'cukup' mengatakan hal yang disusupi kosakata kasar pada Brian tanpa ada Julie di sana.
Kita juga akan menemukan bahwa, seberapa pahit perselingkuhan itu, namun cara terbaik mengatasinya adalah mengikhlaskan. Dan ending film ini sebenarnya tidak istimewa di mata orang lain. Ketika Matt dan kedua puterinya rebahan di sofa sambil nonton Discovery Channel soal Pinguin. Namun, menurut saya, itulah scene romantis bagaiamana sebuah keluarga yang ditinggal mati orang tercinta, harus tetap melanjutkan kehidupan.
Yang jelas, menurut saya film ini manusiawi dan mengingatkan kita kalau orang kaya pun sebenarnya punya masalah yang jauh lebih kompleks dan pahit, yang mungkin 'konsekuensi' dari kekayaan itu sendiri.
The Help
Aktris Pendukung Terbaik
Plot:
The Help: Film Manis tentang Rasisme
Tentu saja kita tahu, bahwa rasisme terjadi lebih banyak dan terlihat di masa lalu. Dan sebenarnya, masih terpelihara dalam keadaan yang samar di masa kini. Ketika perbedaan warna kulit menjadi hal yang dipermasalahkan dalam kehidupan sosial. Saya tentu sudah menonton film Saw terutama yang terakhir. Di sana ada sekelompok anak muda yang 'dihukum' karena bertingkah rasis. Dan Jigsaw bilang 'dibalik lapisan kulit, kita semuanya sama' yaitu bahwa tak peduli kau berkulit kuning, hitam atau putih, tapi kita semua punya darah yang berwarna sama: merah.
Dalam The Help, cuplikan dialog yang mengena itu terdapat dalam narasi yang diucapkan Aibileen. Yaitu ketika ia mendapati kabar bahwa tornado telah menyerang kota: '10 orang kulit putih dan 8 orang kulit hitam tewas. Tapi Tuhan tak peduli dengan warna kulit dengan tornadonya'.
Film ini juga tidak menggambarkan tokoh secara hitam dan putih. Kebencian warga kulit putih terhadap kulit hitam diwakili tokoh perempuan hedonisme bernama Hilly. Karakter jahatnya ini lebih bersifat gangguan psikologis sehingga tidak hanya berlaku rasis terhadap kulit hitam, namun synical terhadap yang sewarna kulit dengannya. Rasismenya muncul karena mengukuhkan 'tradisi' dan konstruksi sosial saat itu yang 'mengharuskan' kulit hitam berada di bawah titik marginal.
'Fakta' ini membuat The Help sebenarnya tidak berbicara mengenai rasisme, namun tentang humanisme. Bagaimana tokoh kulit putih lewat sosok Skeeter dan Celia, tidak membuat jurang pemisah pada warga berkulit hitam. Keduanya memosisikan yang berkulit hitam sebagai manusia, dan bukan sebagai budak.
Sementara, tokoh kulit hitam yang digambarkan tipikal sebagai 'budak' (tokoh Minny) oleh kulit putih yang diwakilkan tokoh Hilly, akhirnya melakukan aksi balas dendam secara 'budak' (baca: keras, tak pantas). Tentu penonton tidak akan lupa bagaimana saat Minny berpakaian rapi menuju rumah Hilly dengan membawa semangkuk besar pie cokelat buatannya. Maklum, Minny memang dikenal jago masak. Scene itu terpotong dan penonto mengira Minny melemparkan pie tersebut ke muka mantan majikannya.
Namun tidak, Minny melakukan acara balas dendam yang kemudian dilegalkan. Meskipun sangat mengejutkan juga hal itu dilakukannya. Ketika ternyata, Hilly menganggap kedatangan Minny ke rumahnya sebagai upaya permintaan maaf. Hilly pun memakan pie itu di meja makan dengan lahap. Namun dia sangat terkejut saat mendengar pengakuan Minny, kalah salah satu bahan dalam pie itu adalah feses. :D
Yeah, mari saya seret kalian semua di jajaran teknis. Satu hal yang menonjol dalam cerita ini selain naskah adaptasi yang gemilang, juga ensemble cast yang tampil luar biasa. Para aktor mengimbangi satu sama lain dan menjaga kekonsistenan karakter. Sementara teknis lain semisal art direction, editing, dan semacamnya, tidak ada yang istimewa.
Yang jelas The Help adalah drama terbaik tahun lalu dan saya rekomendasikan agar kalian menontonnya. Dengan durasi dua jam lebih itu, saya yakin kalian enggak akan pernah merasa bosan menyimak setiap scene demi scene yang berarti.
A Separation
Film Asing Terbaik
A Separation: Film Sederhana yang Sarat Makna
Jujur saja, ketika melihat sisi sinematografi film ini, ekspektasi saya tidak saya taruh lebih tinggi. Dengan konsep pergerakan kamera yang dinamis, film tetap berjalan baik karena faktor cerita dan kemampuan akting lebih menonjol. Pun mengenai scoring, kita tidak akan mendengarkan musik latar di sepanjang film, kecuali di ending film. Ketika musik menyayat hati mengiringi ending menggantung kisah ini.
A Separation dengan judul asli Jodái-e Náder az Simin, mencuri perhatian karena konten cerdas yang berani mengatakan banyak hal dengan ide cerita sederhana tanpa tersimak tendensius. Karakter dalam film ini mewakili stereotype tertentu di Iran. Seperti Simin, seorang perempuan muslim modern, yang berani berinisiatif dalam rumah tangganya. Semisal dengan menggagaskan kepindahan ke luar negeri atau inisiatifnya pisah ranjang dengan sang suami. Simin adalah representasi dari perempuan feminis yang mandiri, kuat, namun tetap digambarkan rapuh. Ketika dalam sebuah scene, sesungguhnya dia ingin sang suami melarang kepergian dan memintanya untuk tidak bercerai.
Namun kita memang berhadapan dengan tokoh lelaki introvert, cerdas, dan memegang teguh harga diri seperti Nader. Seorang ayah yang lembut dalam mendidik anak perempuan dan merawat ayahnya. Karena sedikit tertutup, dia juga merupakan bom waktu, yang diperlihatkan saat mengusir Razieh karena dituduh lalai dan mencuri uang. Penonton juga akan antipati terhadap tokoh ini karena usahanya infantilnya keluar dari jeratan hukum.
Sementara satu keluarga muda lainnya: Razieh dan Houjat, adalah contoh keluarga miskin yang memegang teguh agama. Meski demikian, bukan berarti tanpa cela. Houjat punya temperamen keras lantaran lebih sering mengalami penindasan sosial dari lingkungannya. Sementara Razieh adalah tipikal perempuan yang ingin membantu perekonomian keluarga namun menyembunyikan aktivitas pekerjaan dari pengetahuan suami. Razieh adalah tokoh yang mendapatkan simpati di awal sampai pertengahan film, sampai akhirnya dia mengakui sesuatu yang membuat kita tercengang.
Sementara Somayeh adalah tokoh jenaka di sepanjang film. Penonton akan bersimpati pada sosok anak kecil dengan tampang polos itu. Apalagi saat dia memainkan tabung oksigen ayah Nader. Somayeh menjadi representasi anak-anak yang melihat dengan telanjang, bahwa betapa keras dunia yang dihadapinya.
Namun lebih dari itu, para tokoh ini digambarkan seimbang dan manusiawi. Para tokoh melakukan kekeliruan karena keadaan yang beralasan, tanpa niat jahat, demi kepentingan tertentu, dan di sanalah penonton dengan sendirinya akan menilai dengan bijak, dan tidak memihak. Selain itu penggambaran kompleksitas para tokoh ini digambarkan sedemikian runtun dan rapi sehingga kita menyesal jika melewatkan satu dialog saja. Maklum, setiap dialog dalam film ini begitu berarti.
Yang jelas, film ini saya rekomendasikan untuk teman-teman penyuka drama. Dan yang lebih menarik film ini dibuat secara Islami. Yaitu contohnya, dengan tidak menunjukkan persentuhan kulit antara pemain film berlawanan jenis dalam satu scene (kecuali adegan Razier bertengkat dengan suaminya di dapur).
The Iron Lady
Aktris Terbaik, Tata Rias Terbaik
The Iron Lady: Akting Mumpuni dalam Film yang Lemah
Jujur saja, ketika saya melihat poster The Iron Lady tanpa pernah tahu sinopsis sebelumnya, saya menyangka film ini adalah film superhero. Kapan lagi Meryl Streep berakting ala Halle Berry di Catwoman. Tapi ternyata dugaan saya salah, The Iron Lady jelas bukan Iron Man. Itu adalah julukan yang asalnya berasal dari Uni Soviet, yang menilai bahwa Thathcer adalah perempuan berdarah dingin (binataaaang, kale). Maksudnya bertangan dingin dan berhati besi. Namun dalam pemaparannya, kita akan menemukan seorang perempuan rapuh yang agak gila sampai kemudian kita akan menemuikan sebagaimana besinya perempuan ini. Yeah, ketika dia memutuskan perang terhadap sebuah pulau milik Inggris yang disabet negara orang.
Scene yang tentunya menarik adalah bagian-bagian ketika Thathcer baik ketika masih muda atau sudah mapan, beraktivitas di parlemen yang didominasi laki-laki. Dia memulai dengan usaha menyuarakan pendapatnya, namun sayang gedung yang penuh batangan itu meremehkannya dengan candaan khas. Thather pun menyerang secara verbal dengan kata-kata yang cerdas.
Tidak hanya itu, ketika dia menjabat sebagai PM dan sedang rapat dengan jajaran menteri, dia meluapkan sisi emosionalnya sebagai perempuan. Di sana dia terlihat sangat memegang alih. Selain karena posisi yang tinggi, dia juga meluapkan titik eksistensi diri sebagai perempuan yang harus didengar. Hal ini malah membuat 'harga diri' para lelaki ini ciut. Bagaimana mungkin mereka dibentak-bentak begitu oleh seorang perempuan? Sampai-sampai, seseorang memutuskan untuk mengundurkan diri. Para kolega dari partai pun diam-diam berniat menggulingkan Thatchet. Bahkan, seorang kolega mencalonkan diri sebagai PM. Thatcher pun mengundurkan diri pada akhirnya. Dan berpikir kalau dia digulingkan karena sisi keperempuanannya. Ketika para lelaki di pemerintahan harus selalu tunduk di ranah profesionalitas, namun bertekuk lutut di atas jubah gender.
The Iron Lady sebenarnya merupakan sebuah drama yang gampang dilupakan. Namun kita akan mendapatkan banyak dari akting Streep yang mendominasi, yang membuat jajaran aktor lain tampak seperti pajangan hidup saja. Selain itu, drama ini bukan berarti tidak dibumbui komedi. Gestur Thatcher yang kadang jenaka dan halusinasinya akan sang suami, membuat kita tergelak tawa di beberapa titik. Meski demikian, agak susah bagi penonton awam untuk mencerna film ini. Mungkin mereka berpikir kalau The Iron Lady adalah film hantu. Siapa tahu? Mengingat visual demensia Hatcher dibuat tanpa 'rasa sungkan', dan seenak udel.
Ramai Kritik
FILM ini baru saja diputar di bioskop Indonesia, dan diedarkan di seluruh dunia pada Januari 2012. Namun, kehadiran film ini menuai kritik karena mantan PM yang diceritakan masih dalam keadaan hidup dan juga menderita penyakin demensia. Banyak kalangan yang lebih setuju kalau film ini dirilis setelah Hathcet yang berusia 86 tahun itu tutup usia. Wah, butuh berapa lama untuk merilis sebuah karya seni ini? Meski demikian, film ini hanya diapresiasi dari segi akting, dan tidak dari segi konten. Terbukti dengan tidak dimasukannya film ini dalam kategori utama di setiap penganugerahan film.
Dan menurut saya, The Iron Lady kurang memberikan sentuhan feminis. Suara yang digelontorkan Hatchet adalah suara seorang rakyat kecil yang diremehkan. Selain itu, keberadaannya selama di pemerintahan yang tidak bekerjasama dengan politisi perempuan, patut dipertanyakan.
*
DAFTAR LENGKAP PEMENANG OSCARS 2012
Belum semua film saya buat review/kritiknya, namun review di atas sudah dibuaty jauh sebelum pemenang Oscars 2012 diumumkan. Seperti halnya yang banyak diketahui apresiator film, pemenang Oscar tahun ini mudah diprediksi, jadi tidak salah saya me-review beberapa film utama yang tangguh dan berpotensi menang di acara tahunan ini. Berikut daftar pemenang Oscars 2012 lengkap:
Best Picture: "The Artist"
Best Director: Michel Hazanavicius - "The Artist"
Best Actor: Jean Dujardin - "The Artist"
Best Actress: Meryl Streep - "The Iron Lady"
Best Supporting Actor: Christopher Plummer - "Beginners"
Best Supporting Actress: Octavia Spencer - "The Help"
Best Writing - Original Screenplay: "Midnight in Paris" - Woody Allen
Best Writing - Adapted Screenplay: "The Descendants" - Alexander Payne, Nat Faxon, and Jim Rash
Best Animated Feature: "Rango"
Best Foreign Language Film: "A Separation"
Best Documentary - Feature: "Undefeated"
Best Documentary - Short Subject: "Saving Face"
Best Live Action Short Film: "The Shore"
Best Animated Short Film: "The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore"
Best Original Score: "The Artist" - Ludovic Bource
Best Original Song: "The Muppets" - "Man or Muppet" by Bret McKenzie
Best Sound Editing: "Hugo" - Philip Stockton and Eugene Gearty
Best Sound Mixing: "Hugo" - Tom Fleischman and John Midgley
Best Art Direction: "Hugo" - Dante Ferretti and Francesca Lo Schiavo
Best Cinematography: "Hugo" - Robert Richardson
Best Makeup: "The Iron Lady" - Mark Coulier and J. Roy Helland
Best Costume Design: "The Artist"
Best Film Editing: "The Girl with the Dragon Tattoo (2011)" - Angus Wall and Kirk Baxter
Best Visual Effects: "Hugo" - Rob Legato, Joss Williams, Ben Grossmann and Alex Henning
Best Director: Michel Hazanavicius - "The Artist"
Best Actor: Jean Dujardin - "The Artist"
Best Actress: Meryl Streep - "The Iron Lady"
Best Supporting Actor: Christopher Plummer - "Beginners"
Best Supporting Actress: Octavia Spencer - "The Help"
Best Writing - Original Screenplay: "Midnight in Paris" - Woody Allen
Best Writing - Adapted Screenplay: "The Descendants" - Alexander Payne, Nat Faxon, and Jim Rash
Best Animated Feature: "Rango"
Best Foreign Language Film: "A Separation"
Best Documentary - Feature: "Undefeated"
Best Documentary - Short Subject: "Saving Face"
Best Live Action Short Film: "The Shore"
Best Animated Short Film: "The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore"
Best Original Score: "The Artist" - Ludovic Bource
Best Original Song: "The Muppets" - "Man or Muppet" by Bret McKenzie
Best Sound Editing: "Hugo" - Philip Stockton and Eugene Gearty
Best Sound Mixing: "Hugo" - Tom Fleischman and John Midgley
Best Art Direction: "Hugo" - Dante Ferretti and Francesca Lo Schiavo
Best Cinematography: "Hugo" - Robert Richardson
Best Makeup: "The Iron Lady" - Mark Coulier and J. Roy Helland
Best Costume Design: "The Artist"
Best Film Editing: "The Girl with the Dragon Tattoo (2011)" - Angus Wall and Kirk Baxter
Best Visual Effects: "Hugo" - Rob Legato, Joss Williams, Ben Grossmann and Alex Henning
*





7 Komentar:
Padahal aku menjagokan The Help lho...
Meski The Artist menawarkan hal yang baru di dunia yang serba 3D ini, aku tetep suka The Help. Tapi paling tidak, artis pendukungnya terpilih menjadi salah satu juaranya. Apalagi karakternya juga kuat banget, gak rugi kalo dia terpilih sbg pemeran pembantu wanita terbaik.
yg belum direview, direview dong, me.
Insya Allah akan mereview beberapa film nominator atau pemenang oscar dalam rubrik baru 'Oscars Review' :D
film yang sudah saya tonton adalah the Artist dan Rango.
menonton the artist malah membuat imaji saya "bermain", apa dialog yang tidak dipaparkan itu.
The Help sudah dapat dvdnya, tinggal tonton :D
Wah Rango menang :surprise:
setelah reload 5 kali...kolom komennya keluar juga...moga ga error lagi...
well, saya belum nonton semua film nominasi oscar taun ini, tpi mata saman mungkin sama dengan saya, jadi prediksi saman pun hampir sama dengan saya dan sesuai prediksi saya,,,hasil dari baca review di blog ini,,,pemenang oscarnya pun tepat seperti yg saya prediksi...
thx buat reviewnya dan selamat buat meryl streep...anda memang aktris hebat....
sumpah penasaran sama HUGO pengen nonton, belum kesampean beli dvd nya :-(
lumayan ngakak waktu pemenang Best supporting actor ngomong pada saat dia menang penghargaan wkwk
-hyding
Poskan Komentar